30 Juni 2013

Catatan di Hari Ulang Tahunku

Selasa tanggal 4, menandai tepat dua puluh delapan tahun umurku. Bukan umur yang dibilang muda, tapi belum lagi punya pekerjaan atau istri, kalau keduanya itu dijadikan ukuran kedewasaan seseorang, maka aku belum dikasih itu.

Jam tujuh malam lebih beberapa menit, setelah sore nya nonton film sang kyai di Rajawali dengan kekasih, malam ini ingin kuhabiskan dengan lalar leluhur, menelusuri jejak leluhur yang aku sendiri tidak tahu untuk apa. Terbersit begitu saja dalam hati, kemudian aku utarakan ke teman dan diamini, jadilah malam ini aku merayakan ulang tahun dengan menelusuri leluhur keluarga ke pesarean Eyang Singadipa, di Panembangan Cilongok.  

Berawal dari cerita tentang Makam Singadipa dari Goleg, timbul kreteg yang tidak begitu besar tapi cukup untuk mendorongku ke sana, mengajak Goleg dan tentu dengan maksud yang berbeda. Fenti sempat mengingatkan untuk sms ke Gus Din guruku, meminta ijin untuk ziarah kesana, dan aku menurut. Aku sms ke Gus sesuai dengan niat dari awal, tapi tidak dibalas. Jadilah aku berangkat dengan Goleg ke Panembangan, tapi mampir sebentar ke rumah lik Agus, yang juga sangat penasaran dengan silsilah Singa dalam keluarga kami. Tak berapa lama datang Rohid juragan gas, tentu saja atas undangan dari Goleg, dan saat berangkat Wahyu coin meminta ikut. 

Sampai di Panembangan, kami langsung menuju ke rumah kuncen Pesarean Singadipa, Eyang Zaenuri, seorang tua berumur 71 tahun, tapi tetap tajam membaca dan tulisannya rapi. Goleg membuka perbincangan dengan bercerita kondisi pilkades Pandansari, bulan-bulan ini memang sedang musim pilkades. Di tempat kami pilkades yang katanya pesta demokrasi paling nyata dilaksanakan tanggal 29 Juni 2013, dan Ramlan yang memposisikan diri sebagai pendukung salah satu calon yaitu Kayim Cholid langsung meminta saran kepada Eyang Zaen. 

Eyang Zaenuri yang seringkali dimintai bantuan untuk memberi masukan secara spiritual justru nyeletuk dengan guyon, tapi sangat saya anggap serius. “pilkades nggawa syetan, sing biasane tangga dadi ora takon”, ucapnya sambil menghisap rokok samsu kesukaannya. Tapi aku tidak bertanya lebih jauh lagi. Pandanganku lebih tertuju kepada gambar dzikir Naqsyabandiyah yang tertempel di dinding rumahnya, diapit oleh tulisan Muhammad dengan bahasa arab disamping kirinya, dan tulisan Alloh di samping kanannya. 

Aku langsung teringat ucapan Gus Din saat menjelaskan maksud gambar Naqsyabandiyah yang juga tertempel di dinding rumahku. Gus mengatakan, Kalau ada orang yang punya gambar ini berarti itu teman kita (bolo). Tapi aku masih diam saja, mendengarkan Eyang Zaenuri bicara. Menunggu saat yang tepat untuk bertanya. 

 Eyang zaenuri melanjutkan omongannya tentang Dzikir. Katanya kita semua harus dzikir dalam kondisi apapun, dzikir itu ingat, saat makan, minum, bahkan saat koruspi kita harus ingat Alloh. Tidak seperti sekarang, permasalahan yang terjadi saati ini karena orang-orang sudah tidak ingat kepada Alloh dalam setiap perbuatannya. Padahal dzikir itu diterima walau dengan cara apapun. Lalu perbincangan berganti haluan lagi. 

Aku masih saja bergantian memandang gambar itu dengan memperhatikan muka Zyang Zaenuri yang bicara dengan renyah, tanpa beban. Setelah Eyang Zaen menghitung posisi Kayim Cholid dengan calon yang lain, kami semua bergegas menuju makam Eyang Singadipa. Pertanyaan lik Agus tentang silsilah Singadipa pun tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Akhirnya kami berjalan, tempatnya ternyata cukup jauh dari rumah Eyang Zaen. Dia berjalan cepat sekali untuk ukuran orang setua beliau, dan aku teringat Kaki Tasmidi yang punya macan, jangan-jangan eyang zaen juga punya, batinku tanpa mengharap jawaban. 

Tiba di atas, Eyang Zaen langsung menyalakan lilin di pintu pesarean, kemudian beliau masuk ke dalam dan membersihkan areal makam yang berbentuk rumah dengan sapu yang sudah tersedia di sana. Tak berapa lama Eyang Zaen duduk sambil menaburkan menyan arab. Setelah bau menyan memenuhi areal Pesarean Singadipa, belaiu mulai tahlilan dengan tawasul yang banyak sekali. Beberapa nama kukenal, beberapa lagi wali lokal yang aku tidak tau riwayatnya. Tetapi mbah Abdul Jalil atau Syeh Siti Jenar termasuk dalam daftar tawasul, tak terkecuali Eyang Singadipa beserta istri dan keturunanya. 

Gelar yang dimiliki Eyang Singadipa agak sulit ku ingat, tapi bahwa Eyang Singadipa itu ahli Nata Negara (tata Negara), yang tertera dalam gelarnya , menjadi alasan makamnya sering didatangi oleh orang yang ingin menjadi lurah atau pejabat lain. Selain karena memang Eyang Singadipa juga ahli spiritual, atau ngabehi. 

Setelah tahlilan selesai aku memberanikan diri bertanya dari siapa gambar Naqsyabandiyah yang terpajang di dinding rumah Eyang Zaen didapat. Aku mengatakan juga punya gambar itu. Lalu Eyang Zaen menjelaskan tentang Guru dan baeat yang agak sulit kumengerti. Tak berapa lama kami keluar karena teman-teman yang lain menunggu di teras. Perbincangan dilanjutkan sambil menghisap kretek yang kami bawa. Eyang Zaen bercerita banyak tentang karomah Eyang Singadipa. Kata beliau, sebelum Soeharto lengser, Eyang Singadipa menemui Eyang Zaen dan memberi tanda pondasi yang mengelilingi Pesarean runtuh, dan tak berapa lama Soeharto lengser. 

Perbincangan sempat stag beberapa menit, diam sambil menghisap rokok masing-masing. Eyang Zaen memecah kediaman itu dengan memberi pesan khusu kepadaku. ‘Mumpung masih muda, kalau sudah menjadi anggota (TQN-red) yang istiqomah, pasti akan ketemu sendiri disini’, sambil menunjuk hatinya. Kalau ingin tahu lebih banyak, datang lagi besok sambil membawa rokok samsu diselingi ketawa ringan, tanda bahwa omongannya yang terakhir hanya gurauan, dan kujawab dengan anggukan, nggih yang. Setelah kami bersalaman, kami pamit dan langsung turun. Jalanan menuju Pesarean Singadipa masih basah, tanda bahwa gerimis baru saja lewat. Aku berbalik sebentar, lalu kembali berjalan tanpa mengeluarkan satu kata pun.
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

 

Sponsored by :

Sponsored by :

Followers

 
Toko Buku Kaji Wasroh

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger